Senin, 28 April 2014

MENGONSUMSI GARAM

Dalam hal mengonsumsi garam, tirulah orang Eskimo, warga Dayak, atau Indian Inca.
Mereka nyaris tidak makan garam, tapi tetap bisa hidup. Menu mereka cenderung hambar,
namun tidak ada yang kurang dalam kelangsungan kerja mesin tubuhnya. Dan memang
seperti itulah yang sesungguhnya tubuh kita butuhkan. Menu asin terbentuk lebih karena
budaya orang urban manakala rasa enak garam dapur ditemukan. Budaya gemar garam
begini yang tanpa disadari telah merongrong ginjal orang-orang di dunia untuk bekerja
lebih keras membuang kelebihan natrium (sodium) dari garam yang ditelan setiap hari.

Padahal, tubuh tidak memerlukan garam sebanyak kebiasaan budaya makan kita.
Garam dikenal identik dengan penyakit darah tinggi. Itu sebab bukan cuma orang
gedongan yang bisa kena darah tinggi, jika masih banyak rakyat kecil yang menu hariannya
ikan asin. Dalam garam dapur terkandung unsur natrium dan klor (NaCl). Unsur natrium
penting untuk mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh, selain bertugas dalam
transmisi saraf dan kerja otot.

Kita boleh tidak makan garam, asal ada natrium dalam menu harian. Banyak menu
harian yang menyimpan natrium dan itu sudah bisa mencukupi kebutuhan tubuh. Namun,
oleh karena natrium yang secara alami terkandung dalam bahan makanan tidak berikatan
dengan klor, maka tak memberi cita rasa asin pada lidah kita. Itu berarti, kendati menu
yang kita konsumsi tanpa garam atau tak bercita rasa asin, tidak berarti tubuh tak
memperoleh kecukupan natrium. Demikian pula kebanyakan menu harian orang Eskimo,
Dayak, dan Indian yang tidak asin namun tubuh tidak kekurangan natrium.

Tubuh membutuhkan kurang dari tujuh gram garam dapur sehari atau setara dengan
3.000 mg natrium. Kebanyakan menu harian kita memberi berlipat-lipat kali lebih banyak
dari itu. Selain meninggikan tekanan darah, kerja ginjal jadi jauh lebih berat untuk
membuangnya. Jika sangat berlebihan bisa membuat pikiran kacau dan jatuh koma.
Satu sendok teh garam dapur berisi 2.000 mg natrium. Natrium yang terkandung
dalam setiap menu modern rata-rata sekitar 500 mg. Pada takaran itu ginjal sudah perlu
lembur untuk tetap mempertahankan keseimbangan cairan dan asam-basa agar mesin
tubuh tak kacau dari penyakit akibat kelebihan natrium tidak sampai muncul.

Jenis makanan yang banyak mengandung natrium, antara lain, soda kue, bubuk soda
sebagai pengawet, obat pencahar (laxative), menu yang dipanggang, keju, makanan kaleng
dan laut (seafood), serta padi-padian (cereals). Bagi yang pantang garam, juga perlu menjauhi
jenis sumber natrium tinggi ini. Jenis makanan yang rendah natrium, antara lain, buah
dan sayur-mayur segar, daging dan unggas segar, jenis cereals dan gandum yang dimasak.
Bukan cuma darah tinggi, orang yang mengidap penyakit jantung dan tungkainya
bengkak, perlu membatasi asupan natrium juga. Begitu juga jika mengidap penyakit ginjal,
keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), dan gangguan hati. Termasuk mereka yang
sedang menjalani terapi dengan obat golongan corticosteroid (pasien asam kena penyakit
autoimmune, kulit, ginjal nephritic syndrome).

Namun, jika pantang garam kelewat ketat bisa berbahaya juga. Kekurangan natrium
dan klor secara drastis bisa menjadi beban lain bagi ginjal, dengan gejala pembengkakan
(oedema) juga. Kaki bengkak lantaran penyakit jantung, hati, atau ginjal, berbeda dengan
bengkak karena kekurangan natrium.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar